Sabtu, 27 Juli 2013

Subhanallah, di Usia 112, Nenek Kadirah Istiqomah dalam Berpuasa

SRAGEN - Dalam usia 112 seorang nenek yang bernama Kadirah tetap istiqamah dalam menjalankan ibadah puasa.

Di sebuah rumah berdinding kayu di tepi Jalan Salem-Gemolong, tepatnya di Dukuh Sentulan RT 13, Desa Jeruk, Kecamatan Miri tampak seorang nenek yang duduk di bangku teras rumahnya.

Konon menurut penuturan dari anak dan cucunya, perempuan kelahiran 1901 ini sangat gemar sekali berpuasa. Selain itu, nenek tersebut jarang sekali mengeluh dalam mengarungi kehidupan.

“Ibu saya tidak punya cekelan (pegangan ilmu kesaktian) apa-apa, kami sekeluarga sudah berulang kali menanyakan itu. Seingat saya ibu senang sekali puasa sunnah Senin-Kamis dari waktu masih muda dulu hingga tua,” jelas Wadiyem, anak bungsu dari lima bersaudara.

Menurut Wadiyem, tidak ada pantangan makanan, apapun makanan yang sudah disediakan dimakannya seperti daging, sayur-sayuran, tempe, tahu dan makanan-makanan lainya. Namun ibunya tersebut hanya mau minum teh manis. Air putih pun ia tidak mau.

“Waktu itu ibu pernah bilang, siapa yang mau seperti ini (hidup hingga umur 100 lebih) ya puasa,” imbuhnya.

Kadirah tinggal bersama anak bungsu dan cucu semata wayangnya. Suaminya telah meninggal bertahun-tahun silam semenjak zaman perang ketika Indonesia menghadapi Jepang. Dari buah pernikahannya, Kadirah dikaruniai lima orang anak. Namun sayang, keempat anaknya sudah meninggalnya terlebih dahulu.

Pada waktu itu, untuk menghidupi kelima anaknya, Kadirah membawa garam dalam jumlah besar ke daerah Boyolali yang ditempuhnya dengan berjalan kaki. Garam-garam tersebut ia gendong dan kemudian ditukarkan dengan hasil bumi.

Selain itu, Kadirah mencari dan mengumpulkan daun-daun pandan di sekitar rumahnya. Daun-daun pandan tersebut kemudian dikeringkannya. Setelah daun pandan kering, daun tersebut dianyamnya menjadi sebuah tikar untuk ditukar dengan hasil bumi.

Ia mengatakan meskipun sudah berusia lanjut, ibunya masih mampu beraktivitas layaknya mandi, buang air besar, dan menyapu halaman. Tidak jarang pula saat malam hari, Kadirah duduk di depan televisi. Meskipun sudah tidak mampu mendengar dengan jelas, Kadirah masih bisa menikmati tayangan televis.

“Mbah cuma ikut nonton saja, ikut duduk bareng-bareng di lantai. Saya sudah melarangnya untuk tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat supaya tidak terlalu capek,” ujar Suyatno,54, cucu Kadirah. 

Sumber: NU Online

SHARE THIS

Author:

Situs Berita Islam Balipapan merupakan situs yang memberitakan tentang dunia Islam dan umat Islam, berbagi informasi dan menyemarakkan dakwah / syiar Islamiyah.

0 komentar: