Jumat, 02 Agustus 2013

Zakat Fitrah itu Fardlu atau Wajib ?

Zakat fithri merupakan kefardluan. Wajib dan Fardlu menurut kami (Syafi'i) adalah satu makna. Abu Hanifah berkata: "Zakat fithri itu wajib, bukan fardlu" ;

Itu karena wajib menurut Imam Abu Hanifah derajatnya berada dibawah fardlu. Fardlu adalah suatu yang ditetapkan berdasarkan dalil yang mutawatir seperti Shalat 5 waktu. Wajib adalah sesuatu yang ditetapkan berdasarkan dalil-dalil ahad, seperti shalat Witir (menurut Imam Abu Hanifah). Sebenarnya ini hanya perbedaan nama saja, tidak ada perbedaan lainnya".

Al Asham, Ibnu 'Ulyah dan sekelompok ulama Bashrah berpendapat zakat Fithri tidak wajib, ini juga yang dipegang oleh salah seorang ulama kami yang bersama Abul Husain al-Fardli.

Dalil kami (Syafi'iyah) adalah seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Umar :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ الْمُسْلِمِينَ
"Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah bulan Ramadhan berupa 1 Sho’ kurma atau 1 Sho’ gandum atas setiap orang muslim, merdeka atau budak, laki-laki maupun perempuan dari kaum Muslimin" (HR. Muslim)


Kitab Al Bayan fi Madzhabi al-Imam al-Syafi'i karya Imam Abul Husain Yahya bin Abil Khoir bin Salim al-Imrani al-Yamani al-Syafi'i (wafat 558 H)

SHARE THIS

Author:

Situs Berita Islam Balipapan merupakan situs yang memberitakan tentang dunia Islam dan umat Islam, berbagi informasi dan menyemarakkan dakwah / syiar Islamiyah.

0 komentar: